Kontribusi Perusahaan Pengembang Terhadap Pemberdayaan Petani Perkotaan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
Why this work is in the frame
A frame that forgets how it found something cannot be audited. These are the routes that admitted this work.
Bibliographic record
Abstract
Pembangunan infra struktur yang diperuntukkan bagi sektor property, perindustrian, perdagangan, fasilitas sosial dan pendidikan di wilayah sub-urban terjadi secara cepat hampir di seluruh wilayah Jawa Timur, yang dianggap sebagai salah satu propinsi yang memiliki tingkat perkembangan ekonoi yang pesat. Implikasi yang terjadi bahwa lahan pertanian menjadi semakin terdesak kurang lebih 100 hektar pertahun beralih fungsi menjadi non pertanian. Implikasi berikutnya adalah semakin berkurangnya persediaan pangan, gizi dan bahan baku industri pertanian serta produk-produk pertanian yang menjadi unggulan Indonesia.
 Ditengah cepatnya pembangunan infra struktur usaha pertanian di perkotaan (urban farming) menunjukkan potensi yang semakin berkembang (walaupun lamban) seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. Sugiharso (2014) menyebutkan bahwa pada saat ini terdapat 2000 hektar lahan di wilayah Surabaya bagian Barat yang dikuasai pengembang raksasa yang beberapa hektar diantaranya dipinjamkan untuk usaha pertanian. Pemerintah daerah setempat telah mendorong dan mendukung pengembangan urban farming kepada petani setempat yang tinggal 624 dari 11.568 kk, dengan memanfaatkan lahan pertanian yang tersisa yaitu sekitar 400 ha; serta lahan pekarangan (Risma,2017) karena hasil dari pertanian kota mampu menyediakan kebutuhan bahan pangan lokal serta pendapatan yang memadai bagi petani.
 Perusahaan pengembang yang berperan besar pada proses alih fungsi lahan yang cukup luas serta mendapatkan benefit yang sangat besar, sudah selayaknya untuk berperan utama dalam upaya meningkatkan sumber daya pertanian dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Dana CSR ini dapat berkontribusi besar terhadap program peningkatan pengetahuan dan teknologi pertanian (agro eco-technology). Teknologi pertanian yang terintegrasi dari tiga komponen penting yaitu pertanian organik, pertanian konservasi dan pertanian efisien (Nuffil,2017).
Fetched live from OpenAlex and de-inverted. Abstracts are not stored in this database: the inverted indexes are 8.6 GB of the frame’s 9.3 GB of text, and the host has 13 GB free.
Full frame distilled prediction
Teacher imitationNot calibrated prevalence, not ground truth. Human validation pending. Learned from the 10,348 direct Codex labels and 10,348 direct Gemma labels. Candidate is the union of thresholded teacher heads; consensus is their intersection. These outputs are machine_predicted_unvalidated and are not human labels or direct frontier model labels.
Codex and Gemma teacher scores by category
| Category | Codex | Gemma |
|---|---|---|
| Metaresearch | 0.005 | 0.001 |
| Meta-epidemiology (narrow) | 0.002 | 0.001 |
| Meta-epidemiology (broad) | 0.003 | 0.002 |
| Bibliometrics | 0.000 | 0.003 |
| Science and technology studies | 0.004 | 0.001 |
| Scholarly communication | 0.002 | 0.002 |
| Open science | 0.002 | 0.002 |
| Research integrity | 0.001 | 0.002 |
| Insufficient payload (model declined to judge) | 0.002 | 0.001 |
Machine scores (provisional)
The two teacher heads of the student model, read on this work. A score orders the frame for review; it never asserts a category, and the validation status ships verbatim with every row.
Baseline scores from an immature model (maturity gate not passed, 7 training rounds). Scores rank; they never assert a category.
score_only:v0-immature-baseline · verbatim from the scoring run: score_only means the number may rank works, and no category label ships from it