BIOEKOLOGI COCCINELLIDAE PREDATOR SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI Aphididae spp. PADA EKOSISTEM PERTANAMAN CABAI DI SUMATERA BARAT
Pourquoi ce travail est dans la base
Une base qui oublie comment elle a trouvé un travail ne peut pas être vérifiée. Voici les voies qui ont admis celui-ci.
Notice bibliographique
Résumé
Keanekargaman hayati yang ada pada ekosistem pertanian seperti pertanaman cabai dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Coccinellidae predator sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaringan makanan yaitu sebagai karnivor (predator). Usaha pemanfaatan Coccinellidae predator sebagai agens pengendali hayati kutu daun (Aphididae spp.) spesifik lokasi pada ekosistem pertanaman cabai perlu didukung dengan berbagai informasi. Keanekaragaman, biologi, dinamika populasi dan uji efektivitas merupakan informasi yang substansial untuk diteliti. Informasi tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan efikasi Coccinellidae predator dalam pengendalian Aphididae spp. di lapangan. \nPenelitian ini berbentuk survei di lapangan untuk mengeksplorasi Coccinellidae predator pada ekosistem pertanaman cabai di Sumatera Barat dan eksperimen yang dilaksanakan di Laboratorium Bioekologi Serangga Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang untuk uji biologi dan tanggap fungsional Coccinellidae predator. \nBerdasarkan survei yang sudah dilakukan pada tiga daerah sentra produksi cabai di Sumatera Barat ditemukan sebanyak 10 spesies Coccinellidae predator dan 6 spesies kutu daun. Menochilus sexmaculatus (Fabricius) (Coleoptera: Coccinellidae) merupakan spesies Coccinellidae predator yang paling melimpah sedangkan spesies kutu daun yang paling dominan adalah Aphis gossypii (Glover) (Homoptera: Aphididae). Komposisi spesies Coccinellidae predator dan kutu daun dianalisis dengan indeks keanekaragaman spesies Shannon-Wienner sehingga diketahui bahwa indeks keanekaragaman Coccinellidae predator lebih tinggi di Kota Padang Panjang (1,45) dari pada ekosistem pertanaman cabai di Kab. 50 Kota dan Kab. Agam. Demikian juga keanekaragaman spesies kutu daun lebih tinggi di Kota Padang Panjang (1,27). Pada penelitian ini terungkap bahwa keanekaragaman Coccinellidae predator berbanding lurus dengan keanekaragaman kutu daun, akan tetapi kelimpahan kutu daun tidak mempengaruhi populasi Coccinellidae predator di lapangan. \nM. sexmaculatus dan Coccinella transversalis (Thunberg) (Coleoptera: Coccinellidae) sebagai spesies Coccinellidae predator yang paling dominan maka kedua spesies tersebut diuji secara biologi untuk mendukung hasil eksplorasi di lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa masa perkembangan M. sexmaculatus dari stadium telur hingga menjadi imago adalah 29,43 ± 4,71 hari dengan tingkat keperidian 123,44 ± 15,03 butir, selama 13,50 ± 2,12 hari. Sementara siklus hidup C. transversalis lebih lama dari pada M. sexmaculatus yakni 31,02 ± 4,73 hari dengan tingkat keperidian sebanyak 90,44 ± 14,38 butir. Terlihat pada hasil penelitian ini bahwa M. sexmaculatus memiliki laju reproduksi yang lebih tinggi sedangkan C. transversalis memperlihatkan siklus hidup yang lebih lama. Penelitian tentang statistik demografi dapat mengungkapkan bahwa M. sexmaculatus lebih potensial dari sisi biologi dan dinamika populasi jika dibandingkan dengan C. transversalis, karena hampir pada semua parameter demografi M. sexmaculatus lebih tinggi. \nWalaupun C. transversalis tidak potensial dari sisi biologi namun hasil penelitian tentang uji tanggap fungsional menunjukkan bahwa spesies ini lebih efektif karena tipe tanggap fungsionalnya tergolong tipe I pada tiga jenis kutu daun, sedangkan M. sexmaculatus memperlihatkan tanggap fungsional tipe I terhadap Aphis craccivora (Koch) (Homoptera: Aphididae) dan tipe III pada mangsa Myzus persicae (Sulz) (Homoptera: Aphididae) dan A. gossypii. Berdasarkan hasil penelitian ini penulis merekomendasikan bahwa M. sexmaculatus dan C. transversalis sebagai agens pengendali hayati kutu daun pada ekosistem pertanaman cabai khususnya di Sumetara Barat. \n \nKata kunci: Keanekaragaman, Coccinellidae predator, Biologi, Statistik demografi, Tanggap fungsional
Récupéré en direct depuis OpenAlex et désinversé. Les résumés ne sont pas conservés dans cette base de données : les index inversés représentent 8,6 Go des 9,3 Go de texte de la base, et le serveur dispose de 13 Go libres.
Prédiction distillée sur la base complète
Imitation des enseignantsNi prévalence calibrée, ni vérité terrain. Validation humaine à venir. Apprise à partir de 10 348 étiquettes directes de Codex et de 10 348 étiquettes directes de Gemma. Le mode candidate est l'union des têtes enseignantes seuillées; le consensus est leur intersection. Ces sorties portent le statut machine_predicted_unvalidated et ne sont ni des étiquettes humaines ni des étiquettes directes de modèles de pointe.
Scores Codex et Gemma par catégorie
| Catégorie | Codex | Gemma |
|---|---|---|
| Métarecherche | 0,001 | 0,000 |
| Méta-épidémiologie (sens strict) | 0,001 | 0,001 |
| Méta-épidémiologie (sens large) | 0,001 | 0,001 |
| Bibliométrie | 0,001 | 0,001 |
| Études des sciences et des technologies | 0,004 | 0,001 |
| Communication savante | 0,002 | 0,002 |
| Science ouverte | 0,002 | 0,000 |
| Intégrité de la recherche | 0,001 | 0,001 |
| Charge utile insuffisante (le modèle a refusé de juger) | 0,006 | 0,001 |
Scores machine (provisoires)
Les deux têtes enseignantes du modèle étudiant, lues sur ce travail. Un score ordonne la base pour la relecture; il n'affirme jamais une catégorie, et le statut de validation accompagne chaque rangée tel quel.
Scores de référence d'un modèle non mature (critères de maturité non atteints, 7 itérations). Un score ordonne; il n'affirme jamais une catégorie.
score_only:v0-immature-baseline · tel quel depuis la passe de notation : score_only signifie que le nombre peut ordonner les travaux, et qu'aucune étiquette de catégorie n'en découle