MétaCan
Menu
Retour à la cohorte
Enregistrement W7043359230

Strategi Pengembangan Industri Pengolahan Sabut Kelapa

2000· dissertation· id· W7043359230 sur OpenAlexaff

Notice bibliographique

RevueIPB Business School Repository (Bogor Agricultural University) · 2000
Typedissertation
Langueid
DomainePharmacology, Toxicology and Pharmaceutics
ThématiqueAdvanced Drug Delivery Systems
Établissements canadiensTellabs (Canada)
Organismes subventionnairesnon disponible
Mots-clésWork (physics)Government (linguistics)Context (archaeology)Business management
DOInon disponible

Résumé

récupéré en direct d'OpenAlex

lndonesia memiliki luas areal penanaman kelapa terluas di dunia, yaitu 31,4%. Di susul oleh Filipina (27,7%), lndia (15,8%), dan Srilangka (3,7%). Namun demikian, produsen
\nkelapa terbesar dunia adalah lndia (24,5%). Disusul oleh lndonesia (24,4%), Filipina (24,3%), dan Srilangka (5,0%). Indonesia yang merupakan negara penghasil kelapa nomor dua tersebut sepatutnya memiliki kontribusi yang sangat besar bagi perdagangan serat sabut kelapa dunia.Namun, lndonesia hanya mampu meraih pangsa pasar 0,6 penen. Di lain pihak, Srilangka mampu meraih pangsa pasar 50,3% dan India meraih pangsa pasar 44,7%. Potensi bahan baku industri pengolahan sabut kelapa yang dimiliki Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal dan belum mampu menandingi pangsa pasar dari dua negara penghasil serat sabut kelapa dunia tersebut. Sejalan dengan upaya pemberdayaan kekuatan ekonorni rakyat yang sedang digalakkan pemerintah sejak reformasi bergulir, maka industry pengolahan sabut kelapa memiliki posisi strategis untuk dikembangkan. Posisi strategis tersebut didukung oleh fakta bahwa perkebunan kelapa di Indonesia tersebar di berbagai provinsi dan sebagian besar merupakan perkebunan rakyat. Dengan demikian, strategi pengembangan industri pengolahan sabut kelapa nasional perlu dikaji secara komprehensif.Tujuan dari kajian ini adalah (I) mengkaji potensi pengembangan industri sabut kelapa
\nnasional dengan memetakan daerah-daerah sumber bahan baku yang potensial; (2) mengkaji skala ekonomis; (3) menganalisa kelayakan finansial dan ekonomi; (4) menghitung dan menganalisa Biaya Sumberdaya Domestik dan Tingkat Proteksi Efektif industri; (5) mengkaji faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengevbangan industri sabut kelapa, serta implikasinya terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan ancamannya; serta (6) merumuskan strategi pengembangan industri pengolahan sabut kelapa, serta pola
\npengembangan yang tepat dalam upaya membangun industri pengolahan sabut kelapa yang tanggull, berbasis pada industri kecil, dan berorientasi ekspor. Dengan demikian, rumusan masalah dalam kajian ini adalah (I) BAgaimana potensi pengembangan dan peta sumber bahan baku industri pengolahan sabut kelapa di Indonesia? (2) Bagaimana skala ekonomis pengembangan industri pengolahan sabut kelapa di Indonesia? (3) Bagairnana kelayakan finansial unit pengolahan sabut kelap serta unit usahafinishing industri
\npengolahan sabut kelapa di Indonesia? (4) Bagaimana kelayakan finansial dan ekonomi pengembangan industri pengolahan sabut kelapa nasional? (5) Bagaimana kondisi korbanan
\nsumberdaya domestik untuk memperoleh satu unit devisa dalam upaya menggalakkan ekspor
\nhasil olalian sabut kelapa, serta kondisi tingkat preteksi yang efektif dari pengembangan
\nindustri tersebut? (6) Bagaiman pengaruh faktor eksternal dan internal, serta bagaimana
\ni~nplikasinya terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman industri pengolahan sabut
\nItelapa? (7) Bagaimana rumusan strategi pengembangan industri pengolahan sabut kelapa di
\nIndonesia, serta pola pengembangannya?
\nKajian tersebut dilakukan dengan pendekatan survei selama enam bulan dengan lokasi
\nsurvei di Ciamis, Bandung, dan Pandeglang. Data yang berhasil dikumpulkan meliputi data
\nsekunder dan data primer. Data sekunder dikumpulkan melalui kajian pustaka, dari Ditjen
\nPerkebunan, APCC, PT, Sukaraja Putera Sejati, dan instansi terkait lainnya. Data primer
\ndiku~npulkan melalui wawancara dan diskusi dengan pakar, kuisioner, serta pengamatan
\nlatigsung. Pakar yang menjadi narasumber ditentukan langsung @urposive sampling)
\nberdasarkan kepakaran, pengalaman praktis, dan pengalaman kajian. Analisa yang dilakukan
\nadalah analisis skala ekonomis, pernataan sumber bahan baku, analisis kelayakan finansial di
\ntingkat unit Usaha Pengolahan Sabut Kelapa (UPSK), unit Usaha Finishing (UF), dan Industri,
\ndengan kriteria kelayakan memiliki Net Present Value (NPV) yang positif, Internal Rate of
\nRelztrn (IRR) di atas suku bunga komersial (22%), Benejt-Cost Rasio (B/C) minimal sama
\ndengan satu, dan lamanya Masa Pengembalian Investasi (MPI), analisis kelayakan ekonomi di
\ntingkat Industri dengan kriteria NPV ekonomi, IRR ekonomi, dan B/C ekonomi, analisis nilai
\ntambah, analisis biaya sumberdaya domestik dan tingkat proteksi efektif, Matriks Internal
\nFactor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), Matriks SWOT, Diagram
\nSWOT, dan Proses Hirarki Analitik (PHA).
\nHasil analisis skala ekonomis menunjukkan bahwa skala usaha yang paling optimal di
\ntingkat UPSIC adalah kapasitas olah bahan baku 4000 butir per hari, karena hasil estimasi biaya
\nrata-rata jangkn panjang yang dipetakan dalam kurva biaya rata-rata jangka panjang
\nmenunjukkan bahwa titik otimal berada pada skala usaha tersebut. Di samping itu, hasil
\nanalisis nilai tambah pada skala tersebut menunjukkan bahwa setiap butir sabut kelapa yang
\ndiolah lnalnpu menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 135,65 dengan rasio nilai tambah pada
\nproses pengolahan tersebut mencapai 75,35%. Bagian tenaga kerja mencapai 17,70%, dan
\nbagian ~nanajemen mencapai 62,O 1 %.
\nPengembangan industri pengolahan sabut kelapa nasional harus dilakukan dengan
\npendekatan Satuan Wilayah Produksi (SWP) di mana didirikan unit Usaha Finishing yang
\nlnampu menyerap 20 UPSIC yang didirikan di wilayah kerjanya. Untuk mengblah lima persen
\nbahan baku yang tersedia dibutuhkan 27 SWP dan 540 UPSIC berkapasitas olah bahan baku
\nsabut kelapa 4000 butir per hari. Hasil pemetaan SWP di seluruh Indonesia diperoleh bahwa
\nterdapat 11 Dati 11 di Indonesia yang mampu secara mandiri mendukung satu SWP, yaitu
\nKab~~pateInn dragiri Hilir (Riau), Minahasa, Bolaang Mangondow, dan Gorontalo (Sulut),
\nMaluku Utara (Maluku), Tanjung Jabung (Jambi), Lampung Selatan (Lampung), Donggala dan
\nBanggai (Sukeng), Cia~nis (Jabar), serta Nias (Sumut). Terdapat 16 SWP yang mampu
\ndidukung oleh beberapa Dati I1 yang berdekatan, yaitu Maluku Tengah (Maluku), Bengkalis
\n( R ~ ~ L IL)a,m p~lngT engah (Lampung), Pontianak (Kalbar), Kotawaringin Timur (Kakeng),
\nPadang Pariaman (Sumbar), Lombok Barat (NTB), Asahan (Sumut), Jembrana (Bali), Cilacap
\nda~i P~lrworejo (Jateng), Aceh Utara (Dl Aceh), Polewali Mamasa (Sulsel), Banyuwangi dan
\nBlitar (Jatitii),serta Serang (Jabar).
\nNasil analisis kelayakan finansial pada tingkat UPSK pada delapan skala usaha, yaitu skala
\nusaha berkapasitas olah bahan baku 1000, 2000, 3000, 4000, 8000, 12000, 16000, dan 20000
\nbutir per hari, menunjukkan bahwa semua skala usaha tersebut layak untuk dijalankan. Namun
\ndari kedelapan skala usaha tersebut, kapasitas olah bahan baku 4000 butir per hari yang paling
\nlayak diusaliakan dengan nilai NPV pada tingkat faktor dikonto 16% sebasar Rp. 194.713.018,
\nIRR sebesar 90,08%, BIC sebesar 3,23, dan MPI selama 1,21 tahun atau 15 bulan.
\nDi lain pihak, hasil analisis kelayakan finansial pada tingkat unit usahafinishing dengan
\nskala usaha yang mampu menyerap produksi dari 20 UPSK menunjukkan bahwa unit usaha
\ntersebut layak untuk dijalankan karena memiliki nilai NPV positif, sebesar Rp. 4,267 milyar,
\npada tingkat faktor diskonto 16%, IRR di atas suku bunga komersial sebesar 54,07%, BIC di
\natns satu (2,52), dan MPI selama 1,9 tahun atau 23 bulan.
\nI-Iasil analisis finansial di tingkat industri menunjukkan bahwa secara finansial industri
\npengolahan sabut kelapa nasional layak untuk dikembangkan karena memiliki NPV positif
\n(Rp. 192,297 milyar) pada tingkat faktor diskonto 16%, IRR di atas suku bunga komersial
\n(72,61%0, BIC di atas satu (6,85), dan MPI selama 3,s tahun atau 46 bulan. Di lain pihak,
\nhasil analisis Icelayakan ekonomi juga menujukkan bahwa industri tersebut layak untuk
\ndikembangkan karena secara ekonomi memiliki NPV ekonomi pada diskon faktor sosial
\n(8,91%) adalah Rp. 435,5 milyar (positif), IRR ekonomi adalah 130,44% (di atas tingkat faktor
\ndiskonto sosial), dan BIC ekonomi sebesar 27,14.
\nI-Iasil analisis simulasi biaya sumberdaya domestik industri dan tingkat proteksi efektif
\ndengan menggunakan Shadow Exchange Rate (SER) sebesar Rp. 7.977NSD dan Official
\nExchange Rate (OER) sebesar Rp. 7.809NSD menunjukkan bahwa walaupun industri
\npengolahan sabut kelapa nasional termasuk infant industry, tetapi secara ekonomi harus tetap
\ndikenakan pajak langsung (misalnya pajak ekspor) minimal 3%. Hasil simulasi terhadap
\nellipat jenis perlaleuan, yaitu (1) harga jual FOB Tanjung Periuk oleh PT. Sukaraja Putera
\nSejati saat ini (USD 1401ton untuk cocofibre dan USD 1501ton untuk cocopeat) tanpa pajaic
\nlangsung memiliki unit BSD sebesar Rp 8.308/USD, RBSD(sER) sebesar 1,04, RBSD(oER)
\nsebesar 1,06, ERP(sER)s ebesar 0,04 dan ERP(oER)s ebesar 0,06; (2) harga jual FOB Tanjung
\nPesiuk oleh PT. Sukaraja Putera Sejati saat dengan pajak langsung sebesar 10% memiliki unit
\nBSD sebesar Rp. 7.411/USD, RBSD(SER,s ebesar 0,93, RBSD~ERs,e besar 0,95., ERP(saR,
\nsebesar -0,07 dan ERP~ERse)b esar -0,05; (3) harga jual FOB rata-rata eksportir utalna dunia
\n(USD 2001ton untuk cocofibre dan cocopeat) tanpa pajak langsung memiliki unit BSD sebesar
\nRp. 8.208/USD, RBSD(SERs)e besar 1,03, RBSD(OERs)e besar 1,05, ERP(sER)s ebesar 0,03 dan
\nERP(oERs) ebesar 0,05; serta (4) harga jual FOB rata-rata eksportir utama dunia dengan pajak
\nlangsung sebesar 10% memiliki unit BSD sebesar Rp. 7.342NSD, RBSD(s~s~e)b esar 0,92,
\nRBSD(OERse) besar 0,94, ERP(sERs)e besar -0,08 dan ERP(oERs)e besar -0,06.
\nVisi pengembangan industri pengolahan sabut kelapa nasional adalah "Indostri
\nPengolal~an Sabut Kelapa Indonesia Menjadi Industri Terkemuka Dunia dan Pemimpin
\nPnsar

Récupéré en direct depuis OpenAlex et désinversé. Les résumés ne sont pas conservés dans cette base de données : les index inversés représentent 8,6 Go des 9,3 Go de texte de la base, et le serveur dispose de 13 Go libres.

Comment cette classification a été obtenuedéplier

Prédiction distillée sur la base complète

Imitation des enseignants

Ni prévalence calibrée, ni vérité terrain. Validation humaine à venir. Apprise à partir de 10 348 étiquettes directes de Codex et de 10 348 étiquettes directes de Gemma. Le mode candidate est l'union des têtes enseignantes seuillées; le consensus est leur intersection. Ces sorties portent le statut machine_predicted_unvalidated et ne sont ni des étiquettes humaines ni des étiquettes directes de modèles de pointe.

score de la tête « metaresearch » (Codex)0,000
score de la tête « metaresearch » (Gemma)0,000
Version: codex-gemma-dda1882f352aStatut de validation: machine_predicted_unvalidated
Catégories candidatesMéta-épidémiologie (sens strict), Études des sciences et des technologies, Intégrité de la recherche, Charge utile insuffisante (le modèle a refusé de juger)
Catégories consensuellesMéta-épidémiologie (sens strict), Intégrité de la recherche, Charge utile insuffisante (le modèle a refusé de juger)
DomaineSignal candidat: aucune · Signal consensuel: aucune
Devis d'étudeSignal candidat: Expérimental (laboratoire) · Signal consensuel: aucune
GenreSignal candidat: Empirique · Signal consensuel: Empirique
Score de désaccord entre enseignants0,715
Score d'incertitude au seuil0,999

Scores Codex et Gemma par catégorie

CatégorieCodexGemma
Métarecherche0,0000,000
Méta-épidémiologie (sens strict)0,0020,002
Méta-épidémiologie (sens large)0,0020,001
Bibliométrie0,0010,004
Études des sciences et des technologies0,0030,000
Communication savante0,0000,003
Science ouverte0,0020,000
Intégrité de la recherche0,0040,006
Charge utile insuffisante (le modèle a refusé de juger)0,0020,002

Scores machine (provisoires)

Les deux têtes enseignantes du modèle étudiant, lues sur ce travail. Un score ordonne la base pour la relecture; il n'affirme jamais une catégorie, et le statut de validation accompagne chaque rangée tel quel.

Scores de référence d'un modèle non mature (critères de maturité non atteints, 7 itérations). Un score ordonne; il n'affirme jamais une catégorie.

Tête enseignante Opus0,038
Tête enseignante GPT0,302
Écart entre enseignants0,263 · la distance entre les deux têtes enseignantes sur ce seul travail
Statut de validationscore_only:v0-immature-baseline · tel quel depuis la passe de notation : score_only signifie que le nombre peut ordonner les travaux, et qu'aucune étiquette de catégorie n'en découle

Classification

machine, non validée

Prédiction automatique; les deux têtes enseignantes s’accordent sur ce qui est montré ici.

Devis d'étudeExpérimental (laboratoire)
Domainenon disponible
GenreEmpirique

Le détail, modèle par modèle et score par score, se trouve en fin de page sous « Comment cette classification a été obtenue ».

En bref

Citations0
Publié2000
Routes d'admission1
Résumé présentoui

Explorer davantage

Même revueIPB Business School Repository (Bogor Agricultural University)Même sujetAdvanced Drug Delivery SystemsTravaux en français237 207