Studi Fenomenologi: Pengalaman Perawat Dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Henti Jantung Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (Rsud Dr. Saiful Anwar, Malang)
Bibliographic record
Abstract
Pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien di IGD belum optimal. Asuhan keperawatan belum memenuhi prinsip-prinsip holistik. Hal ini tidak sesuai dengan tuntutan profesionalisme perawat, yaitu perawat harus merawat manusia secara utuh tidak terpisah antara fisik dengan psikologis, sosial, kultural, dan spiritualnya. Hal tersebut terjadi karena perawat IGD merasa bekerja melebihi kapasitas mereka dan merasa tidak berdaya, kurang dihormati, tidak dihargai, mendapat tekanan moral, stres dan kelelahan ketika merawat banyak pasien dengan kondisi gawat darurat. Pelaksanaan asuhan keperawatan yang optimal secara empiris menunjukkan efek yang positif baik bagi pasien maupun keluarga pasien henti jantung. Asuhan keperawatan selama proses resusitasi pada pasien henti jantung dapat meningkatkan keberhasilan resusitasi. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan asuhan keperawatan secara holistik seperti menghadirkan keluarga atau orang tercinta dalam ruang resusitasi dapat meningkatkan semangat hidup bagi pasien henti jantung selama proses resusitasi. Efek positif lain dari penerapan keperawatan holistik adalah dapat menumbuhkan perasaan dihargai dan dihormati akan nilai-nilai dari pasien dan keluarga pasien kritis. Henti jantung merupakan suatu kondisi berhentinya fungsi jantung secara mendadak pada seseorang yang didiagnosa penyakit jantung maupun tidak, ditandai dengan hilangnya tanda-tanda sirkulasi. Henti jantung menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di rumah sakit. Sekitar 1-5 dari 1.000 pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami serangan jantung, dan ini diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 80% terhadap tingkat mortalitas di rumah sakit. Di US dan Canada hampir 350.000 orang mengalami henti jantung setiap tahunnya. Dari jumlah sebanyak itu setengahnya terjadi di rumah sakit. Perawat dituntut melakukan pertolongan pada pasien henti jantung secara cepat dan tetap menjaga keprofesionalannya sebagai pemberi asuhan keperawatan. Meskipun dokter dan perawat berpedoman pada guidelines untuk menolong pasien henti jantung, namun ada hal mendasar yang membedakan antara praktik kedokteran dan keperawatan. Perbedaan yang mendasar antara keduanya bahwa perawat memberi caring (perawatan) sedangkan dokter adalah curing (pengobatan). Watson (1997) menekankan bahwa fokus keperawatan seharusnya „perawatan-penyembuhan‟ bukan „diagnosis-penatalaksanaan medis‟ yang berfokus pada penyakit dan patologinya seperti paradigma kedokteran. viii Studi pendahuluan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang pada tanggal 12 Maret 2015, dari wawancara yang peneliti lakukan kepada empat perawat IGD yang masing-masing berinitial A, R, D dan S menunjukkan bahwa asuhan keperawatan yang dilakukan berfokus pada perawatan fisik, yaitu upaya penyelamatan nyawa (life saving). Selain itu, perawat juga tidak merumuskan diagnosa keperawatan melainkan masalah keperawatan seperti gangguan oksigenasi dan gangguan hemodinamik. Intervensi keperawatan yang diberikan pada pasien henti jantung juga hanya berfokus pada intervensi fisik, yaitu resusitasi. Perawat juga mengalami dilema ketika menghadapi keluarga pasien yang menginginkan masuk untuk mendampingi pasien henti jantung. Selain itu aspek pendokumentasian asuhan keperawatan menjadi hal yang dirasa menghambat pelaksanaan asuhan keperawatan. Berdasarkan fenomena di atas, menjadi hal yang penting untuk dilakukan penelitian mengenai pengalaman perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien henti jantung di IGD RSSA. Selain itu, penelitian terkait pentingnya pelaksanaan asuhan keperawatan secara pada pasien henti jantung di IGD pun masih jarang. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi interpretif untuk mengeksplorasi makna pengalaman perawat dalam merawat pasien henti jantung. Data dikumpulkan oleh peneliti melalui indepth interview dan dianalisa dengan teknik analisis tematik ( matic analisis). Situs penelitian ini di IGD RSSA, Malang. Peneliti sebagai instrument telah mewawancarai 7 perawat yang berpengalaman kerja di IGD RSSA lebih dari 5 tahun. Hasil dari penelitian ini adalah dihasilkannya 7 tema, yaitu (1) perbedaan persepsi tentang asuhan keperawatan pada pasien henti jantung; (2) melaksanakan tahapan asuhan keperawatan tanpa merumuskan diagnosa keperawatan secara adekuat; (3) merasa tidak difasilitasi untuk mendokumentasikan asuhan keperawatan secara lengkap; (4) mengalami krisis peran dalam menjalankan asuhan keperawatan; (5) merasa kurang mampu dalam berkomunikasi dengan keluarga berduka, beda bahasa dan budaya; (6) termotivasi untuk menolong; dan (7) harapan untuk optimalisasi asuhan keperawatan. Keseluruhan proses asuhan keperawatan pada pasien henti jantung yang dilakukan oleh perawat IGD dapat dikatakan belum optimal. Belum optimalnya pelaksanaan asuhan keperawatan ini dapat dilihat dari adanya krisis peran dalam melaksanakan asuhan keperawatan, adanya perasaan tidak bisa merumuskan diagnosa keperawatan secara adekuat, dan adanya hambatan perawat dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan. Meskipun demikian perawat tetap berusaha menjalankan pekerjaannya sesuai prosedur yang ada, yaitu melakukan tindakan resusitasi sesuai dengan guidelines AHA 2010. Perawat juga memberikan hak-hak pasien dan keluarga. RSSA diharapkan menyusun suatu formula dokumentasi asuhan keperawatan yang cocok diaplikasikan di IGD dan merepresentasikan asuhan keperawatan; diharapkan pula pihak rumah sakit membuat suatu sistem pendokumentasian berbasis komputer untuk memudahkan dokumentasi sehingga perawat dapat fokus melaksanakan asuhan keperawatan. Peningkatan kompetensi perawat perlu difasilitasi oleh pihak rumah sakit, dalam hal ini adalah pelatihan ACLS bagi perawat di P1 yang belum memiliki sertifikat kompetensi ACLS. Selain itu diharapkan ada pelatihan berkomunikasi efektif untuk menenangkan keluarga pasien. Perawat IGD RSSA diharapkan perlu meningkatkan pengetahuan bagaimana merumuskan diagnosa keperawatan dan belajar transcultural nursing agar pelaksanaan asuhan keperawatan dapat lebih optimal. Perlu dilakukan penelitian terkait pengalaman perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien henti jantung di IGD yang berfokus pada eksplorasi pengalaman keberhasilan hingga tercapai kondisi well being pada pasien henti jantung.
Fetched live from OpenAlex and de-inverted. Abstracts are not stored in this database: the inverted indexes are 8.6 GB of the frame’s 9.3 GB of text, and the host has 13 GB free.
How this classification was reachedexpand
Full frame distilled prediction
Teacher imitationNot calibrated prevalence, not ground truth. Human validation pending. Learned from the 10,348 direct Codex labels and 10,348 direct Gemma labels. Candidate is the union of thresholded teacher heads; consensus is their intersection. These outputs are machine_predicted_unvalidated and are not human labels or direct frontier model labels.
Codex and Gemma teacher scores by category
| Category | Codex | Gemma |
|---|---|---|
| Metaresearch | 0.008 | 0.002 |
| Meta-epidemiology (narrow) | 0.003 | 0.003 |
| Meta-epidemiology (broad) | 0.005 | 0.001 |
| Bibliometrics | 0.002 | 0.003 |
| Science and technology studies | 0.007 | 0.001 |
| Scholarly communication | 0.001 | 0.002 |
| Open science | 0.002 | 0.001 |
| Research integrity | 0.006 | 0.010 |
| Insufficient payload (model declined to judge) | 0.005 | 0.004 |
Machine scores (provisional)
The two teacher heads of the student model, read on this work. A score orders the frame for review; it never asserts a category, and the validation status ships verbatim with every row.
Baseline scores from an immature model (maturity gate not passed, 7 training rounds). Scores rank; they never assert a category.
score_only:v0-immature-baseline · verbatim from the scoring run: score_only means the number may rank works, and no category label ships from itClassification
machine, unvalidatedMachine predicted; both teacher heads agree on what is shown here.
How this classification was reached, model by model and score by score, is at the end of the page under "How this classification was reached".