ANALISIS DAMPAK KEJUTAN VARIABEL INTERNASIONAL MAKRO EKONOMI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA: MENGGUNAKAN VECTOR AUTOREGRESSION (VAR)
Notice bibliographique
Résumé
Latar Belakang \n` Pembangunan ekonomi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang \nmenyebabkan kenaikan pendapatan riil per kapita penduduk suatu negara dalam \njangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan. Pembangunan \nekonomi harus dipandang sebagai suatu proses agar pola keterkaitan dan saling \nmempengaruhi antara faktor-faktor dalam pembangunan ekonomi dapat diamati \ndan dianalisis. Dengan cara tersebut dapat diketahui runtutan peristiwa yang \nterjadi dan dampaknya pada peningkatan kegiatan ekonomi dan tarif kesejahteraan \nmasyarakat dari satu tahap ke tahap pembangunan berikutnya. \nPembangunan ekonomi juga perlu dipandang sebagai suatu proses \nkenaikan dalam pendapatan perkapita karena mencerminkan tambahan \npendapatan dan adanya perbaikan dalam kesejahteraan ekonomi masyarakat. \nBiasanya laju pembangunan ekonomi satu negara ditunjukkan oleh tingkat \npertambahan PDB/GDP (Produk domestik Bruto / Gross Domestik Product). Jadi \ndapat disimpulkan salah satu indikator kemajuan pembangunan adalah \npertumbuhan ekonomi. Indikator ini pada dasarnya mengukur kemampuan suatu \nnegara untuk memperbesar outputnya dalam laju yang lebih cepat dari pada \ntingkat pertumbuhan penduduknya (Lincolin, 2010). \nPertumbuhan ekonomi merupakan pengembangan kegiatan yang \nberdampak terhadap produksi barang dan jasa serta kemakmuran masyarakat. \nMasalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makro ekonomi \ndalam jangka panjang. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu \nnegara untuk menghasilkan barang dan jasa akan meningkat. Peningkatan ini \ndisebabkan oleh faktor-faktor produksi yang selalu mengalami penambahan dalam \njumlah dan kualitasnya. Pembangunan ekonomi dengan tujuan meningkatkan \npertumbuhan ekonomi dan mensejahterakan penduduk, menjadi tolak ukur \nkemapanan suatu negara. Mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara \nberkembang merupakan upaya untuk mengejar ketertinggalan dengan negara lain \nserta dapat lebih mensejajarkan diri dengan negara-negara yang lebih maju. \nNamun, sebagian besar negara berkembang mengalami hambatan terutama dalam \nhal dana untuk membiayai berbagai kegiatan pembangunannya. \nDalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, pemerintah \ndi masing-masing negara mempunyai beberapa komponen kebijakan yang \ndigunakan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai. Salah \nsatunya adalah melalui kebijakan perdagangan internasional, investasi dan utang \nluar negeri. Perdagangan internasional dapat digunakan sebagai mesin bagi \npertumbuhan ekonomi disuatu negara (Salvatore, 2007). Hal ini menunjukan \nbahwa perdagangan internasional memegang peranan penting dalam \npemabangunan ekonomi di suatu negara, terutama bagi negara-negara \nberkembang yang sedang berada dalam tahapan membangun ekonominya. \nIndonesia sebagai sebuah negara berkembang, sejak tahun 1980-an telah \nmenggunakan kebijakan ekspor untuk mendorong pertumbuhan ekonominya. Hal \nini menguatkan dugaan bahwa pemerintah Indonesia berusaha memaksimalkan \nperanan ekspor sebagai motor penggerak dalam mendukung pertumbuhan \nekonomi di Indonesia. Data ekspor dan impor per GDP Indonesia dalam tahunan \nmenunjukkan bahwa hampir setiap tahun nya presentase ekspor dan impor \nindonesia berkisar pada angka 20-30% dari total GDP-nya dengan tren positif. \nKondisi yang cukup ekstrim terjadi pada tahun 1998 – 1999 dimana di Indonesia \nterjadi krisis moneter. Ekspor dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 rata-rata \nmenyumbang 30,71% terhadap GDP Indonesia atau lebih dari seperempat total \nGDP Indonesia, dimana persentase ekspor tertinggi adalah pada saat periode tahun \n2000 sebesar 39,6%, dan terendahnya pada tahun 2003 dan 2007 yakni sebsar \n27,7%. Sedangkan rata-rata impor terhadap GDP Indonesia dari tahun 2000 \nsampai denga 2007 adalah sebesar 20,56%, dimana persentase impor tertinggi \npada tahun 200 sebesar 24,55 dan terendah pada tahun 2003 sebesar 16,8 % \n(Prakoso, 2009) \nKarena keterbatasan sumberdaya domestik yang dimiliki sedangkan \nkebutuhan dana untuk pembangunan ekonomi besar, maka untuk mengatasi \nkekurangan dana yang diperlukan dalam proses pembangunanan nasional sejak \npelita I hingga beberapa tahun belakangan ini, dilakukan pemasukan dana dari \nluar negeri, baik berupa utang luar negeri (ULN) maupun penanaman modal asing \nutamanya yang bersifat penanaman modal langsung (PMA). Bantuan luar negeri \ndan modal asing berpengaruh terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi \nnegara berkembang. Hal ini telah lama menjadi perdebatan hangat diantara \nkelompok-kelompok ekonomi dunia. Sekelompok ekonom pada tahun 1950-an \ndan 1960-an berpendapat dan meyakini bahwa bantuan luar negeri mempunyai \ndampak yang positif terhadap pembangunan ekonomi suatu negara tanpa \nmenimbulkan gangguan pada masa sesudahnya bagi negara-negara debitor \ntersebut (Rustian, 2007). \nPenanaman Modal Asing (PMA) merupakan salah satu sumber \npembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Penanaman \nmodal asing, diarahkan untuk menggantikan peranan dari utang luar negeri \nsebagai sumber pembiayaan pertumbuhan dan pembangunan perekonomian \nnasional. Peran modal asing dirasa semakin penting untuk melihat kenyataan \nbahwa jumlah utang luar negeri Indonesia mengalami peningkatan. \nPenanaman modal dalam negeri memeberikan peranan dalam \npembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang. Hal ini terjadi \ndalam berbagai bentuk. Modal investasi mampu mengurangi kekurangan tabungan \ndan melalui pemasukan peralatan modal dan bahan mentah, dengan demikian \nmenaikkan laju pemasukan modal. Selain itu tabungan dan investasi yang rendah \nmencerminkan kurangnya modal di negara keterbelkangan tekhnologi. Bersamaan \ndengan modal uang dan modal fisik, modal investasi yang membawa serta \nketerampilan tekhnik, tenaga ahli, pengalaman organisasi, informasi pasar, \ntekhnik-tekhnik produksi maju, pembaharuan produkan produk dan lain-lain. \nSelain itu juga melatih tenaga kerja setempat pada keahlian baru. Semua ini pada \nakhirnya akan mempercepat pembangunan ekonomi negara terbelakang \nPada masa Orde Baru, modal asing khususnya utang luar negeri, secara \nfaktual ditempatkan sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan, meskipun \nsecara normatif harus ditempatkan sebagai sumber tambahan. Kenyataan inilah \nyang menyebabkan bahaya tersembunyi, yang secara interen melekat pada pola \npembangunan yang didorong modal asing. Apabila posisi ketergantungan semakin \nbesar, semakin besar pula resiko terkait yang harus dihadapi oleh sistem ekonomi \nglobal dalam bentuk ketergantungan terhadap modal asing, khususnya utang luar \nnegeri. \nUtang luar negeri dibutuhkan dalam perekonomian suatu negara untuk \nmenunjang proses produksi dalam negeri. Artinya, utang luar negeri merupakan \nmata rantai yang menghubungkan kegiatan internal dan eksternal perekonomian \nsuatu negara. Tentunya jumlah dan pemanfaatan utang tersebut harus \ndikendalikan dan dikelola secara benar sehingga tidak menjadi beban yang \nberkepanjangan (Rustian, 2007). \nBerdasarkan hasil penelitiannya dengan model VAR, Zestos dan Tao \n(2002), menyimpulkan bahwa PDB, ekspor, dan impor di Canada saling \nberhubungan dan hubungan sebab akibat dapat terjadi di setiap kemungkinan \ndirection, sedangkan bagi Amerika Serikat diketahui bahwa ekspor dapat \nmenyebabkan perubahan pada PDB. Hasil perbandingan Granger Causality test \nantara Canada dan Amerika Serikat, menunjukkan hubungan sebab akibat yang \nkuat terjadi diantara tiga variabel di Canada, tetapi bagi Amerika Serikat \nhubungan sebab akibat tidak sekuat Canada diantara tiga variabel tersebut. Hal ini \nkonsisten dengan kenyataan bahwa Canada lebih bergantung pada perdagangan \ndan lebih mempunyai open economy daripada Amerika Serikat. Kemudian \nManeschiold (2008) juga dengan menggunakan metode VAR dalam \npenelitiannya, menyatakan bahwa ekspor menjadi leading variable dalam \nhubungan kointegrasi diantara PDB dan ekspor di Argentina, tetapi bagi Mexico \nPDB yang menjadi leading variable. \nIqbal et.al, (2010), meneliti hubungan kausalitas antara PMA, perdagangan \ninternasional, dan pertumbuhan ekonomi di Pakistan menggunakan data kuartalan \ntime series dari tahun 1988 sampai 2005. Metode yang digunakan adalah VAR \ndan VECM. Hasilnya menunjukkan ada hubungan dua arah antara PMA dan \nGDP, PMA dan ekspor, GDP dan ekspor, serta impor dan ekspor. Sementara \nhanya terjadi hubungan kausalitas satu arah untuk variabel impor terhadap PMA \ndan GDP. Kesimpulannya adalah PMA yang diinvestasikan dipakistan telah \nmeningkatkan pertumbuhan ekonomi dan strategi perdagangan adalah dua faktor \nyang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di pakistan. \nMahmud (2013) meneliti hubungan timbal balik antara pertumbuhan \nekonomi dengan utang luar negeri di Indonesia. Dengan menggunakan data \nsekunder dalam bentuk time series yang bersifat kuantitatif selama tahun 1996 – \n2010. Dengan alat analisis model VAR, diperoleh hasil estimasi, hubungan antara \nkedua variabel yaitu utang luar negeri dan pertumbuhan ekonomi memiliki \nhubungan 2 arah atau feedback, artinya kedua variabel tersebut saling \nmempengaruhi satu sama lainnya. Dan berdasarkan hasil uji akar-akar unit (Unit \nRoots Test), hubungan antara kedua variabel utang luar negeri dan pertumbuhan \nekonomi memiliki hubungan stasioner pada tingkat first difference yang berarti \nbahwa terda
Récupéré en direct depuis OpenAlex et désinversé. Les résumés ne sont pas conservés dans cette base de données : les index inversés représentent 8,6 Go des 9,3 Go de texte de la base, et le serveur dispose de 13 Go libres.
Comment cette classification a été obtenuedéplier
Prédiction distillée sur la base complète
Imitation des enseignantsNi prévalence calibrée, ni vérité terrain. Validation humaine à venir. Apprise à partir de 10 348 étiquettes directes de Codex et de 10 348 étiquettes directes de Gemma. Le mode candidate est l'union des têtes enseignantes seuillées; le consensus est leur intersection. Ces sorties portent le statut machine_predicted_unvalidated et ne sont ni des étiquettes humaines ni des étiquettes directes de modèles de pointe.
Scores Codex et Gemma par catégorie
| Catégorie | Codex | Gemma |
|---|---|---|
| Métarecherche | 0,001 | 0,000 |
| Méta-épidémiologie (sens strict) | 0,002 | 0,002 |
| Méta-épidémiologie (sens large) | 0,003 | 0,002 |
| Bibliométrie | 0,004 | 0,001 |
| Études des sciences et des technologies | 0,002 | 0,001 |
| Communication savante | 0,001 | 0,002 |
| Science ouverte | 0,003 | 0,001 |
| Intégrité de la recherche | 0,002 | 0,002 |
| Charge utile insuffisante (le modèle a refusé de juger) | 0,001 | 0,001 |
Scores machine (provisoires)
Les deux têtes enseignantes du modèle étudiant, lues sur ce travail. Un score ordonne la base pour la relecture; il n'affirme jamais une catégorie, et le statut de validation accompagne chaque rangée tel quel.
Scores de référence d'un modèle non mature (critères de maturité non atteints, 7 itérations). Un score ordonne; il n'affirme jamais une catégorie.
score_only:v0-immature-baseline · tel quel depuis la passe de notation : score_only signifie que le nombre peut ordonner les travaux, et qu'aucune étiquette de catégorie n'en découleClassification
machine, non validéePrédiction automatique; les deux têtes enseignantes s’accordent sur ce qui est montré ici.
Le détail, modèle par modèle et score par score, se trouve en fin de page sous « Comment cette classification a été obtenue ».