AKTUALISASI MITOS SEBAGAI UPAYA LEGIMITASI KEKUASAAN MASA AWAL BERDIRINYA MATARAM ISLAM
Notice bibliographique
Résumé
Mataram ialah daerah yang menghasilkan dinasti Jawa yang paling kuat \ndan paling lama. Dalam babad Jawa disebutkan bahwa seorang Ki Gede \nPamanahan berhasil membunuh Arya Penangsang dari Jipang dan sebagai \nhadiahnya, Pamanahan diberi bumi Mataram. Setelah Pajang mengalami masa \nsurut, Mataram menjadi sebuah kerajaan yang memegang kekuasaan tertinggi di \nJawa. Berdirinya dinasti Mataram mengundang berbagai kontroversi karena \npendirinya adalah Ki Ageng Pamanahan yang merupakan keturunan orang biasa. \nUntuk itu, agar bisa diterima oleh masyarakat, para raja dari dinasti ini selalu \nberusaha memperlihatkan keunggulannya bahkan setelah Mataram berhasil \nmengubah statusnya dari kabupaten menjadi kerajaan, berbagai upaya dilakukan \nuntuk mengukuhkan kedudukannya. \nSepanjang sejarah berdirinya, kerajaan Mataram Islam selalu terlibat \ndalam usaha-usaha pengukuhan diri. Dalam mengukuhkan kedudukannya, \nMataram menempuh upaya yang bercorak politik militer, serta bercorak mistik \nreligius kultural. Dinasti ini selalu merasa terancam oleh pusat-pusat kekuasaan \nlain, bahkan ketika ekspansi wilayah telah mampu menundukkan beberapa \nwilayah. Tokoh yang mempunyai peran penting masa awal berdirinya Mataram \nIslam ialah Panembahan Senopati, di mana ia mampu mengelola alam pikiran \nmasyarakat Jawa yang dekat dengan kehidupan mistik dengan menciptakan \nbeberapa mitos mengenai berdirinya Mataram Islam. \nIslam sendiri ketika menjadi agama kerajaan dan sebagai simbol religius \nkerajaan mempunyai peran dalam membantu mengukuhkan Mataram Islam \nmenjadi sebuah kerajaan yang kokoh. Agama Islam menjadi salah satu pendukung \nlegitimasi kekuasaan Mataram Islam ketika itu, berdampingan dengan mitos yang \ndihadirkan Panembahan Senapati juga sebagai sarana pendukung kekuasaan. \nPenelitian terhadap Mataram Islam ini penting sebagai studi terhadap Sejarah \nIslam di Indonesia dalam perspektif Islam, serta khususnya bagi pengembangan \nbidang study “Sejarah dan Kebudayaan Islam” di UIN Sunan Kalijaga. \nPokok permasalahan dalam penelitian ini ialah upaya legitimasi kekuasaan \nMataram Islam melalui mitos. Masalah ini mengacu pada pengembangan mitos \nbertujuan melegitimasikan kekuasan bagi penguasa ketika itu, serta pengaruh \nIslam sebagai agama dan simbol kekuasaan mutlak. Persoalan tersebut merupakan \nmasalah sejarah yang diteliti melalui pendekatan politik dan kebudayaan. Fakta \nmengenai kebudayaan diciptakan untuk tujuan politik dianalisis mengunakan teori \npolitik Jawa yang dikemukan oleh Beniedict R. O. G. Anderson. Penelitian ini \nmerupakan penelitian historis yang bertujuan merekonstruksi masa lampau secara \nkronologis dan sistematis, agar dapat memberikan gambaran tentang peristiwa \nmasa lampau yang dialami oleh manusia serta disusun secara alamiah. \nPenelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan penelitian \nkepustakaan/ library research yakni penelitian dengan sumber tertulis seperti buku \ndan jurnal. Rumusan masalah yang dijadikan panduan penelitian ialah: bagaimana \nsejarah awal berdirinya kerajaan Mataram Islam; mengapa Panembahan Senapati \nmenciptakan mitos pada awal berdirinya kerajaan Mataram Islam; mitos-mitos \napa saja yang diaktualisasikan Panembahan Senapati untuk membangun \nkekuasaannya. Guna mendapatkan analisis yang lebih dalam mengenai aktualisasi \nmitos sebagai upaya legitimasi kekuasaan masa awal berdirinya Mataram Islam, \npendekatan yang digunakan ialah pendekatan budaya.
Récupéré en direct depuis OpenAlex et désinversé. Les résumés ne sont pas conservés dans cette base de données : les index inversés représentent 8,6 Go des 9,3 Go de texte de la base, et le serveur dispose de 13 Go libres.
Comment cette classification a été obtenuedéplier
Prédiction distillée sur la base complète
Imitation des enseignantsNi prévalence calibrée, ni vérité terrain. Validation humaine à venir. Apprise à partir de 10 348 étiquettes directes de Codex et de 10 348 étiquettes directes de Gemma. Le mode candidate est l'union des têtes enseignantes seuillées; le consensus est leur intersection. Ces sorties portent le statut machine_predicted_unvalidated et ne sont ni des étiquettes humaines ni des étiquettes directes de modèles de pointe.
Scores Codex et Gemma par catégorie
| Catégorie | Codex | Gemma |
|---|---|---|
| Métarecherche | 0,001 | 0,000 |
| Méta-épidémiologie (sens strict) | 0,003 | 0,004 |
| Méta-épidémiologie (sens large) | 0,003 | 0,002 |
| Bibliométrie | 0,002 | 0,005 |
| Études des sciences et des technologies | 0,003 | 0,003 |
| Communication savante | 0,004 | 0,018 |
| Science ouverte | 0,006 | 0,002 |
| Intégrité de la recherche | 0,002 | 0,003 |
| Charge utile insuffisante (le modèle a refusé de juger) | 0,003 | 0,004 |
Scores machine (provisoires)
Les deux têtes enseignantes du modèle étudiant, lues sur ce travail. Un score ordonne la base pour la relecture; il n'affirme jamais une catégorie, et le statut de validation accompagne chaque rangée tel quel.
Scores de référence d'un modèle non mature (critères de maturité non atteints, 7 itérations). Un score ordonne; il n'affirme jamais une catégorie.
score_only:v0-immature-baseline · tel quel depuis la passe de notation : score_only signifie que le nombre peut ordonner les travaux, et qu'aucune étiquette de catégorie n'en découleClassification
machine, non validéePrédiction automatique; les deux têtes enseignantes s’accordent sur ce qui est montré ici.
Le détail, modèle par modèle et score par score, se trouve en fin de page sous « Comment cette classification a été obtenue ».