TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN PENGANGKUTAN UDARA \nTERHADAP PENUMPANG DALAM HAL TERJADI \nKETERLAMBATAN PENERBANGAN
Notice bibliographique
Résumé
Abstrak \n \nJarak tempuh antara satu daerah dengan daerah yang lain dan juga antara satu \nnegara dengan negara yang lain apabila menggunakan jasa pengangkutan udara \nakan dapat dicapai dengan waktu yang relatif singkat. Namun keuntungan waktu \ntersebut tidak akan didapat oleh penumpang apabila terjadi keterlambatan \npenerbangan. Keterlambatan penerbangan yang sering terjadi tersebut \nmenimbulkan ketidaknyamanan, kerugian moril dan kerugian materiil bagi \npenumpang di mana kenyamanan dan ketepatan waktu yang diharapkan oleh \npenumpang menjadi terganggu dan tidak terpenuhi. Penelitian ini akan mengkaji \ndan membahas mengenai tanggung jawab hukum perusahaan pengangkutan udara \nmengenai keterlambatan penerbangan menurut konvensi internasional dan hukum \nnasional. \nPenelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan tipe penelitian deskriptif \ndan pendekatan masalah nonjudicial case study. Data yang digunakan adalah data \nsekunder, yaitu data yang bersumber dari ketentuan perundang-undangan, \nyurisprudensi, dan buku literatur hukum atau bahan hukum tertulis lainnya. \nPengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Setelah data terkumpul, \nselanjutnya diolah dengan cara seleksi data, klasifikasi data, dan sistematisasi \ndata. Analisis yang digunakan adalah analisis data secara kualitatif. \nHasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa perusahaan pengangkutan \nudara harus bertanggung jawab atas kerugian yang diderita penumpang akibat \nketerlambatan penerbangan. Syarat pengajuan klaim ganti rugi penumpang harus \nmenunjukkan dokumen terkait dan surat keterangan dari pihak yang berwenang. \nMenurut konvensi internasional, yaitu Konvensi Warsawa 1929, batas tanggung \njawab yang diberikan sebesar 125 ribu franc Perancis atau setara US$20.000. \nBatas maksimum tersebut kemudian dinaikkan berdasarkan Konvensi Montreal \n1999 yaitu sebesar US$ 2.689 atau setara Rp.24.206.000 (asumsi kurs rupiah \nRp.9000). Menurut hukum nasional, kompensasi yang diberikan menurut \nii \nOrdonansi Penerbangan Udara 1939 yaitu Rp.12.500,-. Ketentuan tersebut \ndiperbarui menurut Undang-Undang No.1 Tahun 2009 dan peraturan \npelaksananya yaitu minuman dan makanan ringan, makan siang atau malam, ganti \nrugi sebesar Rp. 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) per penumpang atau 50% dari \nRp.300.000,00 apabila pengangkut menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat \ndengan tujuan penerbangan akhir penumpang dan memindahkan penumpang ke \npenerbangan berikutnya. Bila terjadi pembatalan penerbangan, maka harus \nmengembalikan harga tiket yang telah dibayarkan ke perusahaan. Perusahaan \npengangkutan udara bertanggung jawab apabila keterlambatan disebabkan oleh \nkesalahan perusahaan pengangkutan udara. Namun perusahaan pengangkutan \nudara dibebaskan dari tanggung jawab atas ganti kerugian serta adanya apresiasi \nperusahaan terhadap penumpang apabila keterlambatan penerbangan disebabkan \noleh faktor cuaca dan/atau teknis operasional, dan penerbangan VIP. Penyelesaian \nsengketa tanggung jawab keterlambatan dapat melalui Badan Penyelesaian \nSengketa Konsumen (BPSK), Pengadilan Negeri tempat pembelian tiket atau \nmelalui Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) atau alternatif penyelesaian \nsengketa lain. \nKata Kunci : Tanggung Jawab, Keterlambatan, dan Perusahaan \nPengangkutan Udara.
Récupéré en direct depuis OpenAlex et désinversé. Les résumés ne sont pas conservés dans cette base de données : les index inversés représentent 8,6 Go des 9,3 Go de texte de la base, et le serveur dispose de 13 Go libres.
Comment cette classification a été obtenuedéplier
Prédiction distillée sur la base complète
Imitation des enseignantsNi prévalence calibrée, ni vérité terrain. Validation humaine à venir. Apprise à partir de 10 348 étiquettes directes de Codex et de 10 348 étiquettes directes de Gemma. Le mode candidate est l'union des têtes enseignantes seuillées; le consensus est leur intersection. Ces sorties portent le statut machine_predicted_unvalidated et ne sont ni des étiquettes humaines ni des étiquettes directes de modèles de pointe.
Scores Codex et Gemma par catégorie
| Catégorie | Codex | Gemma |
|---|---|---|
| Métarecherche | 0,000 | 0,000 |
| Méta-épidémiologie (sens strict) | 0,002 | 0,002 |
| Méta-épidémiologie (sens large) | 0,002 | 0,001 |
| Bibliométrie | 0,001 | 0,001 |
| Études des sciences et des technologies | 0,001 | 0,001 |
| Communication savante | 0,000 | 0,001 |
| Science ouverte | 0,002 | 0,001 |
| Intégrité de la recherche | 0,002 | 0,002 |
| Charge utile insuffisante (le modèle a refusé de juger) | 0,000 | 0,000 |
Scores machine (provisoires)
Les deux têtes enseignantes du modèle étudiant, lues sur ce travail. Un score ordonne la base pour la relecture; il n'affirme jamais une catégorie, et le statut de validation accompagne chaque rangée tel quel.
Scores de référence d'un modèle non mature (critères de maturité non atteints, 7 itérations). Un score ordonne; il n'affirme jamais une catégorie.
score_only:v0-immature-baseline · tel quel depuis la passe de notation : score_only signifie que le nombre peut ordonner les travaux, et qu'aucune étiquette de catégorie n'en découleClassification
machine, non validéePrédiction automatique; les deux têtes enseignantes s’accordent sur ce qui est montré ici.
Le détail, modèle par modèle et score par score, se trouve en fin de page sous « Comment cette classification a été obtenue ».