QUR’ANIC WORLDVIEW RAHMANIAN DI INDONESIA \n(Studi Pemikiran Nurcholis Madjid, Ahmad Syafii Maarif dan \nSahiron Syamsuddin)
Bibliographic record
Abstract
Kajian metodologi interpretasi al-Qur‟an Fazlur Rahman, Double Movement, \nsudah mencapai titik jenuh di Indonesia. Hal itu terbukti dari banyaknya pengulangan \nkajian baik dari segi metodologi atau aplikasi. Rahman tidak saja mempengaruhi “muridmuridnya” \ndi Indonesia dalam sisi metodologi tafsir, melainkan lebih luas dari itu yakni \nqur‟anic worldview. Semua itu dapat diketahui dari bagaimana para Rahmanian di \nIndonesia mengadopsi, mengembangkan dan mengaplikasi qur‟anic worldview Rahman \nsecara variatif. \nDalam perspektif teori difusi, qur‟anic worldview Rahman menyebar dalam dua \ncara ke Indonesia: secara interpersonal dan melalui media massa. Tokoh pemikir \nNurcholis Madjid (Cak Nur) dan Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) yang bertemu dan \nberguru langsung di Chicago University mewakili model interpersonal. Sedangkan tokoh \nSahiron Syamsuddin, seorang akademisi ilmu tafsir, terpengaruh melalui media massa. \nPertanyaan seputar bagaimana proses persebaran qur‟anic worldview sampai kemudian \ndiadopsi, diimplementasi dan direinvensi (dikembangkan) secara variatif oleh ketiga \ntokoh itu? Serta sebagai contoh kasus aplikatif, bagaimana ketiga tokoh memandang ayatayat \njihad? Akan dielaborasi penuh dalam tesis ini. \nHasilnya, ketiga tokoh mengalami “perubahan” signifikan dalam konteks \npemikiran masing-masing setelah mengadopsi qur‟anic worldview Rahman. Cak Nur \ntidak mengalami perubahan “haluan” pemikiran, namun pengaruh Rahman terkait \nkeislaman dan kemodernan sangat terlihat sebelum (1965-1978) dan setelah belajar \ndengan Rahman (tahun 1985-2005) sampai kemudian dikembangkan menjadi keislamankemodernan- \nkeindonesiaan. Buya Syafii lain lagi, sebelum bertemu Rahman adalah \nseorang Maududian sejati (1968-1979) yang sangat menginginkan Indonesia menjadi \nnegara Islam. Namun setelah bertemu Rahman (1980-2022) Buya Syafii adalah \nRahmanian sejati dan mengadopsi pemikiran Rahman, terutama terkait keislaman dan \nkemanusiaan, sampai kemudian dikembangkan menjadi keislaman-kemanusiaankeindonesiaan. \nAdapun Sahiron, sejak studi di McGill University, adalah Syahrurian \n(1998-2005). Bahkan, Sahiron menjadi tokoh yang memperkenalkan pemikiran Syahrūr \ndi Indonesia. Namun setelah menyelesaikan studi doktoral di Bemberg University, \nGermany (2006), Sahiron menyadari banyak kelemahan dalam teori Syahrūr. Setelah \nmasa pencarian, sampai tahun 2014, Sahiron menjelma seorang Rahmanian, melalui \nteorinya Ma‟nā-cum-Maghzā. Uniknya, jika Cak Nur mengembangkan qur‟anic \nworldview Rahman, secara filosofis, Buya Syafii lebih memilih jalur intelektual publik \nyang menulis secara populer di media massa, sedangkan Sahiron jelas teoritikmetodologis. \nDalam memandang ayat-ayat jihad, ketiganya mempunyai aksentuasi dan gaya \nyang variatif. Cak Nur mengelaborasi jihad secara filosofis dalam kerangka keislamankemodernan- \nkeindonesiaan. Jihād yang lebih fisikal tidak boleh didikotomi dengan \nijtihād (dimensi intelektual) dan mujāhadah (spiritual), termasuk dalam memahami baik \nayat al-Qur‟an atau konsep dār as-salām dan dār al-harb. Buya Syafii menekankan jihād \nsebagai perjuangan kemanusiaan dalam membangun peradaban manusia yang “Islami”. \nHanya memaknai jihād dalam arti perang atau aksi kekerasan, sama dengan harakiri \nperadaban. Adapun Sahiron, melalui pendekatan Ma‟nā-cum-Maghzā berhasil \nmewacanakan maghzā-dinamis dari setiap ayat-ayat jihad dalam al-Qur‟an sebagai \nberpesan dasar perdamaian.
Fetched live from OpenAlex and de-inverted. Abstracts are not stored in this database: the inverted indexes are 8.6 GB of the frame’s 9.3 GB of text, and the host has 13 GB free.
How this classification was reachedexpand
Full frame distilled prediction
Teacher imitationNot calibrated prevalence, not ground truth. Human validation pending. Learned from the 10,348 direct Codex labels and 10,348 direct Gemma labels. Candidate is the union of thresholded teacher heads; consensus is their intersection. These outputs are machine_predicted_unvalidated and are not human labels or direct frontier model labels.
Codex and Gemma teacher scores by category
| Category | Codex | Gemma |
|---|---|---|
| Metaresearch | 0.001 | 0.000 |
| Meta-epidemiology (narrow) | 0.004 | 0.005 |
| Meta-epidemiology (broad) | 0.004 | 0.003 |
| Bibliometrics | 0.004 | 0.009 |
| Science and technology studies | 0.005 | 0.002 |
| Scholarly communication | 0.004 | 0.012 |
| Open science | 0.006 | 0.002 |
| Research integrity | 0.002 | 0.004 |
| Insufficient payload (model declined to judge) | 0.004 | 0.001 |
Machine scores (provisional)
The two teacher heads of the student model, read on this work. A score orders the frame for review; it never asserts a category, and the validation status ships verbatim with every row.
Baseline scores from an immature model (maturity gate not passed, 7 training rounds). Scores rank; they never assert a category.
score_only:v0-immature-baseline · verbatim from the scoring run: score_only means the number may rank works, and no category label ships from itClassification
machine, unvalidatedMachine predicted; both teacher heads agree on what is shown here.
How this classification was reached, model by model and score by score, is at the end of the page under "How this classification was reached".